Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts

Friday, February 16, 2024

Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin

Assalamualaikum....

Hai readers kesayangan, akhirnya blog ini terjamah lagi setelah bertahun-tahun tidak saya jamah😇 hehe....

By The Way, alasan saya mengaktifkan blog ini lagi karena saat ini saya sedang menjalani Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 9.

Ok.... Ijinkan saya memberikan pemaparan terkait apa yang saya pelajari.




Silahkan teman-teman untuk memperhatikan petikan kalimat di bawah ini ya...

“ Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik ” (Bob Talbert)

Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang. Pada hakikatnya pendidikan ini untuk mengembangkan potensi seseorang dan diarahkan pada tujuan yang diharapkan untuk menjadikannya sebagai manusia yang utuh. Pemberdayaan potensi peserta didik diarahkan untuk membangun karakter pribadinya sehingga dapat menjadi individu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan lingkungannya.
Sebagai sebuah institusi moral, sekolah merupakan sebuah miniatur dunia yang berkontribusi terhadap terbangunnya budaya, nilai-nilai,  dan moralitas  dalam diri setiap murid.  Perilaku warga sekolah dalam menegakkan penerapan nilai-nilai yang diyakini dan dianggap penting oleh sekolah, adalah teladan bagi murid.

Seorang pendidik harus mampu menjadi teladan bagi murid-muridnya. Hal ini akan tercermin dalam perilaku kesehariannya, sehingga seorang pendidik dapat menjadi role model bagi peserta didik dan seluruh warga sekolah bahkan di lingkungan tempat tinggal.

Dalam menjalankan perannya, kita sebagai seorang pendidik harus mampu memberikan kontribusi bagi peserta didik, dimana dalam setiap pengambilan keputusan harus berpihak kepada murid yang berlandaskan pada nilai-nilai kebajikan. Kita menyadari bahwa setiap pengambilan keputusan akan merefleksikan integritas sekolah, nilai-nilai apa yang akan dijunjung tinggi, dan keputusan-keputusan yang diambil kelak akan menjadi rujukan atau teladan bagi seluruh warga sekolah dan lingkungan sekitarnya. Jadi seorang pendidik senantiasa berupaya untuk menanamkan karakter dengan menjunjung nilai-nilai kebajikan universal dan memperhatikan kebutuhan setiap peserta didik. Hal ini sejalan dengan kalimat bijak berikut:

Education is the art of making man ethical.
Pendidikan adalah sebuah seni untuk membuat manusia menjadi berperilaku etis.

~Georg Wilhelm Friedrich Hegel ~


Memahami kalimat tersebut, maka pendidikan merupakan suatu proses menuntun siswa dengan penguatan karakter , norma-norma  sehingga akan menjadi generasi yang memiliki nilai moral, kebajikan dan kebenaran untuk menjalankan kehidupannya. Generasi yang akan datang adalah cerminan pendidikan saat ini yang kita poles seperti membuat maha karya terbaik yang akan mewarnai negeri ini di masa depan.

Setelah kita memahami beberapa hal diatas, berikut adalah pendekatan atas tinjauan dari koneksi antar materi pada modul 3.1 Pendidikan Guru Penggerak tentang pengambilan keputusan.

1. Bagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin?
Filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki pengaruh bagaimana seorang guru mengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran.

Semboyan yang dicetuskan oleh KHD yang sampai saat ini masih menjadi landasan berpijak bagi pendidik adalah Ing Ngarso Sung Tulodho (Seorang pemimpin harus mampu memberi tauladan), Ing Madya Mangunkarsa (Seorang pemimpin juga harus mampu memberikan dorongan, semangat dan motivasi dari tengah), Tut Wuri handayani (Seorang pemimpin harus mampu memberi dorongan dari belakang), yang artinya adalah Seorang pemimpin (Guru) harus mampu memberikan teladan dan memberikan semangat dan motivasi dari tengah juga mampu memberikan dorongan dari belakang untuk kemajuan seorang muridnya.  Semboyan ini memiliki makna mendalam dapat kita jadikan landasan dalam setiap pengambilan keputusan, yaitu keputusan yang selalu berpihak kepada murid agar menjadikan mereka sebagai generasi yang cerdas dan berkarakter sebagaimana tercermin dalam profil pelajar Pancasila. Hal ini dapat kita lakukan dalam proses pembelajaran di sekolah, yang tidak hanya menitik beratkan pada konten kurikulum, namun transfer nilai -nilai kebajikan dapat kita sampaikan secara terus menerus dengan eksplisit pada pembelajaran dan keteladanan disetiap pengambilan keputusan. Proses pengambilan keputusan yang bertanggungjawab.

2. Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Perangai seseorang terkadang merupakan cerminan dari nilai-nilai yang tertanam dalam diri seseorang tersebut. Hal ini juga akan berpengaruh terhadap prinsip-prinsip yang diambil ketika seseorang tersebut akan mengambil keputusan. Begitu pula dalam proses pengambilan keputusan yang bertanggung jawab, dan kompetensi  kesadaran diri (self awareness), pengelolaan diri (self management), kesadaran sosial (social awareness)  dan keterampilan berhubungan sosial  (relationship skills),  akan mendukung dalam mewujudkan sikap  Tut wuri handayani . Hal ini dapat dilakukan oeh seorang pendidik dengan memberikan dorongan secara moril maupun materil bagi semua warga sekolah. Nilai-nilai kebajikan yang tertanam dalam diri pendidik akan mewarnai setiap pengambilan keputusaan. Nilai kejujuran, integritas sebagi pendidik akan tergambar dalam keteladanan dan kebijakan — kebijakan yang diambil dalam setiap keputusan.

3. Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan coaching (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi coaching yang telah dibahas pada sebelumnya.

Tidak dapat dielakkan bahwa kita selalu dihadapkan pada berbagai permasalahan yang membutuhkan suatu keputusan dalam penyelesainnya. Dalam pengambilan keputusan dibutuhkan langkah-langkah yang mengacu pada prinsip tertentu, karen dalam pengambilan keputusan berkaitan erat dengan masa depan suatu organisasi, apalagi menyangkut pada keputusan yang sifatnya strategis. Salah satu faktor yang sangat membantu dalam pengambilan keputusan adalah keterampilan coaching. Sebagai pendidik, guru harus memiliki keterampilan coaching.
Selama proses pembelajaran, pendampingan dalam pengujian pengambilan keputusan melalui kegiatan coaching (bimbingan) yang dilakukan oleh  fasilitator saya rasakan sangat efektif dalam membantu pemahaman saya.

Beberapa contoh praktik coaching dapat memberi gambaran yang utuh untuk dapat diterapkan di sekolah. Keputusan yang diambil dengan teknik coaching yang berlandaskan etika, nilai-nilai kebajikan, sesuai dengan visi misi sekolah yang berpihak pada murid dan menciptakan budaya positif dilingkungan sekolah. Teknik coaching dilakukan denga prinsip kesetaraan, sehingga tidak terkesan menggurui tapi justru akan menimbulkan rasa nyaman  sehingga coach, sehingga mampu mengidentifikasi permasalahan dan dapat menyampaikan pertanyaan berbobot dari coachee. Begitu pula dengan coachee yang dengan rasa nyaman dapat menyampaikan hambatan — hambatan dan dapat menemukan solusi yang sesuai. Hal ini karena coach mampu menjadi pendengar yang baik sehingga mampu membantu menguraikan permasalahan melalui pertanyaan-pertanyaan berbobot.  Dengan coaching, guru dapat mengatasi permasalahan yang dihadapi siswa dalam proses pembelajaran. Sebagai coach yang baik guru memiliki harapan terhadap siswanya sehingga dapat menjalankan seluruh tugas dan kewajiban yang diberikan di sekolah dengan baik.

4. Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika?

Kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosional sangat mempengaruhi dalam pengambilan keputusan. Dalam setiap pengambilan keputusan wajib berlandaskan pada nilai-nilai kebajikan  serta regulasi yang ada dengan berpedoman pada 9 langkah pengambilan keputusan. Melalui kedua dasar tersebut kita dapat menganalisis sehingga dapat membedakan antara dilema etika atau bujukan moral.

Kepekaan sosial emosional seseorang akan menumbuhkan empati dan simpati, sehingga dapat menempatkan diri untuk bisa mengenal orang lain . Dengan simpati dan empati kita dapat merasakan apa yang peserta didik alami, sehingga kita dapat mengidentifikasi permasalahan dengan bijaksana, disaat harus melakukan pengambilan keputusan. Guru yang berperan sebagai pemimpin pembelajaran akan bertindak atas dasar keberpihakan pada murid. Dalam setiap keputusannya harus mempertimbangkan bayak hal yang bermuara pada murid, berbasis etika dan nilai kebajikan berlandaskan pada 4 paradigma yaitu individu vs masyarakat, rasa keadilan vs rasa kasihan, kebenaran vs kesetiaan dan jangka pendek vs jangka panjang, 3 prinsip yaitu prinsip berbasis hasil akhir, prinsip berbasis peraturan, dan prinsip berbasis rasa peduli. Serta dilakukan dengan 9 langkah yaitu:

  • Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan
  • Menentukan siapa saja yang terlibat
  • Mengumpulkan fakta-fakta yang relevan
  • Pengujian benar atau salah yang didalamnya terdapat uji legal, uji regulasi, uji intuisi, uji halaman depan koran, uji keputusan panutan/idola
  • Pengujian paradigma benar lawan benar
  • Prinsip Pengambilan Keputusan
  • Investigasi Opsi Trilemma
  • Buat Keputusan
  • Tinjau lagi keputusan Anda dan refleksikan

5. Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?

Pembahasan studi kasus yang berfokus pada masalah moral atau etika akan semakin mengasah empati dan simpati seorang pendidik. Pendidik yang telah terlatih akan mempunyai rasa empati dan simpati yang baik sehingga diharapkan mampu mengidentifikasi dan memetakan paradigma dilema etika agar pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran lebih bijak.

Kebijakan yang muncul pada saat pengambilan keputusan tetap mengacu keberpihakan dan mengutamakan kepentingan murid, sehingga solusi tepat akan didapat dari setiap permasalahan yang terjadi. Pendidik yang mampu menganalisis permasalahan dari berbagai sudut pandang dan pendidik yang dengan tepat, sehingga mampu membedakan apakah permasalahan yang dihadapi termasuk dilema etika ataukah bujukan moral.

Ketika seorang pendidik dihadapkan pada kasus-kasus yang berfokus pada masalah moral dan etika, maka keputusan yang diambil akan dipengaruhi oleh nilai-nilai yang dianutnya. Jika nilai-nilai yang dianutnya nilai-nilai positif maka keputusan yang diambil akan tepat, benar dan dapat dipertanggung jawabkan dan begitupun sebaliknya jika nilai-nilai yang dianutnya tidak sesuai dengan kaidah moral, agama dan norma maka keputusan yang diambilnya lebih cenderung bermuara pada kebenaran menurut versi pribadi. Selain itu pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika juga dapat melatih ketajaman dan ketepatan dalam pengambilan keputusan, sehingga dapat dengan jelas membedakan antara dilemma etika ataukah bujukan moral. Keputusan yang diambil akan semakin akurat dan menjadi keputusan yang dapat mengakomodir kebutuhan murid dan menciptakan keselamatan dan kebahagian semua pihak berdasarkan nilai-nilai kebenaran dan kebajikan.

6. Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Keputusan yang kita ambil secara langsung maupun tidak langsung akan berdampak pada imlementasi pembelajaran dan mempengaruhi situasi di sekolah. Setiap keputusan yang kita ambil harus tepat dan bijak berlandaskan nilai-nilai kebajikan, keteladanan, bijaksana dan tidak melanggar norma. Dengan landasan tersebut kita dapat menciptakan lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.Sehingga murid-murid dapat belajar dengan baik dan dapat mengembangkan kompetensinya.

7. Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Pengambilan keputusan yang dilakukan berlandaskan atas tiga prinsip penyelesaian dilema, yaitu Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking), Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking) ataukah Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking). Pemilihan prinsip tersebut tentunya disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada.  Meskipun setiap keputusan pasti ada resiko, pro dan kontra, namun hal ini menjadikan salah satu tantangan tersendiri. Tantangan yang saya hadapi dalam pengambilan keputusan terhadap kasus — kasus yang sifatnya dilemma etika adalah perasaan tidak enak yang timbul karena tidak dapat memuaskan semua pihak. Namun dengan mengikuti 9 langkah pengambilan keputusan dapat meminimalkan perasaan tidak nyaman dan keputusan yang saya ambil dapat diterima oleh semua pihak.

8. Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda?

Pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil dengan pengajaran memerdekakan murid -murid kita adalah terciptanya merdeka belajar. Dengan merdeka belajar, murid bebas mencapai kesusksesan, kebahagiaan sesuai minat dan potensinya tanpa ada paksaan dan tekanan dari pihak manapun. Hal ini diharapkan murid-murid akan sukses dengan bidangnya masing-masing, bahagia karena sesuai dengan apa yang diinginkannya dan bertanggungjawab akan apa yang menjadi pilihannya. Disinilah dasar pijakan kita bahwa semua pengambilan keputusan harus berpihak pada murid, dan guru berfungsi untuk memfasilitasi, membantu mengembangkan bakat dan minat yang sudah ada. Kurikulum merdeka sangat berorientasi pada murid, hal ini terlihat dari kurikulum kelas XI di SMK yang tidak lagi memecah materi menjadi beberapa kompetensi, namun menjadi satu kesatuan utuh dan mendalam kedalam satu mata pelajaran. Penggunaan model pembelajaran berdiferensiasi akan mampu mengakomodir kebutuhasn setiap siswa sesuai dengan bakat dan keahliannya. Guru hanya sebagai fasilitator dan pembelajaran terpusat pada siswa, dengan didukung pada penerapan secara eksplisit maupun implisit KSE yang akan semakin memperkuat  dan mempertajam wujud nyata dalam memfasilitasi dan mengasah keterampilan social emosional murid-murid kita.

9. Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Keputusan yang diambil oleh seorang pemimpin pembelajaran pasti akan membawa dampak, baik jangka panjang maupun pendek bagi murid. Hal yang sudah kita putuskan dan kita lakukan akan akan terekam menjadi suatu catatan dan akan menjadikan role model tentang apa dan bagaimana kelak murid-murid berpikir dan bertindak.

Bagaimana mereka mengambil keputusan di masyarakat dikemudian hari. Gambaran ini menjadikan dasar bahwa pengambilan keputusan oleh seorang pendidik harus tepat, benar dan bijak melalui analisis dan pengujian yang mendalam atas benar salahnya. Pengujian dilakukan dengan menggunakan lima uji yaitu uji legal, uji regulasi, uji instuisi, uji publikasi dan uji panutan atau uji idola akan menjadikan pengambilan keputusan kita akurat dan teruji sehingga tidak menyesatkan murid-murid.

10. Apakah kesimpulan akhir  yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Kesimpulan akhir yang saya peroleh dari pembelajaran materi ini dan keterkaitannya dengan modul sebelumnya bahwa pengambilan keputusan merupakan suatu kompetensi atau skill yang harus dimiiki oleh guru sebagai pendidik. Terkait dengan tugas dan fungsinya seorang guru dalam membuat keputusan harus berlandaskan pada filosofi Ki Hajar Dewantara, karena setiap keputusan yang diambil akan mewarnai pola pikir dan karakter murid. Agar keputusan yang diambil dapat memberikan kemanfaatan untuk banyak orang, mampu mengantarkan pada lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman (well being) dan dapat dipertanggungjawabkan, maka harus dilakukan berdasarkan pada budaya positif dan menggunakan alur yang tertata seperti BAGJA. Hal ini dilakukan semata untuk menghantarkan murid menuju profil pelajar pancasila, yang dalam perjalanannya banyak benturan yang sifatnya dilema etika dan bujukan moral. Untuk itu diperlukan panduan sembilan langkah pengambilan dan pengujian keputusan, sehingga langkah yang diambil selalu berpihak kepada murid.

Sekolah sebagai institusi yang berfungsi memberikan pelayanan, membimbing, mendidik dan mengajar para peserta didik agar memiliki sifat/tingkah laku yang lebih baik. Sekolah juga bertugas melakukan proses transfer ilmu dan pembentukan karakter peserta didik. Banyak hal yang harus dilakukan, tentu saja banyak juga pengambilan keputusan yang mewarnai kebijakan-kebijakan sekolah. Guru sebagai pemimpin pembelajaran harus mampu mengambil keputusan dengan bijak, dengan mengedepankan nilai-nilai kebajikan yang telah menjadi kesepakatan kelas. Keputusan yang diambil oleh seorang pemimpim pembelajaran dengan menggunakan alur BAGJA, selalu berorientasi untuk mewujudkan budaya positif sehingga dapat menciptakan kondisi lingkungan yang nyaman (well being). Guru mempunyai kewajiban untuk mengantarkan murid menjadi insan yang cerdas dan berkarakter, menuju profil pelajar Pancasila. Harapan ini pasti dibutuhkan komitmen dari semua pihak. Dalam mengawal impian ini tentu banyak juga ditemui permasalahan baik yang sifatnya dilema etika maupun bujukan moral. Untuk itu diperlukan panduan sembilan langkah dalam pengambilan keputusan dan pengujian agar keputusan yang diambil berpihak kepada murid demi terwujudnya merdeka belajar. Sebagai salah satu bentuk merdeka belajar adalah diterapkannya pembelajaran berdiferensiasi. Dengan pembelajaran berdiferensiasi maka kebutuhan murid akan terpenuhi sesuai dengan bakat, minat dan kecenderungan gaya belajarnya.

11. Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?

Hal-hal yang menurut saya diluar dugaan bahwa ternyata dalam pengambilan keputusan bukan hanya didasarkan pada pemikiran dan pertimbangan semata, namun sangat diperlukan adanya paradigma, prinsip, dan langkah-langkah pengujian pengambilan keputusan, agar keputusan yang diambil tepat sasaran dan bermanfaat untuk orang banyak. Disamping itu secara personal, dalam pengambilan keputusan diperlukan satu sikap keberanian dengan segala konsekwensinya.

12. Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?

Sebelum mempelajari modul ini saya pernah mengambil  keputusan dengan situasi dilema etika, namun yang saya lakukan hanya sebatas pada pemikiran didukung dengan beberapa pertimbangan. Saya sudah merasa aman bila keputusan yang saya ambil sudah sesuai aturan dan tidak berdampak merugikan banyak orang. Dengan belajar modul ini saya menjadi lebih kaya akan pengetahuan bahkan telah mempraktikkan, bagaimana cara pengambilan keputusan yang tepat dengan menggunakan langkah-langkah tertentu yang tak lepas dari paradigma dan prinsip-prinsip yang ada.

13. Bagaimana dampak mempelajari konsep  ini buat Anda, perubahan  apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?

Konsep yang sudah saya pelajari di modul ini memberikan dampak yang besar bagi pola pikir saya. Sebelumnya saya berpikir bahwa pengambilan keputusan yang telah didasarkan regulasi dan sosial saja sudah cukup, ternyata banyak hal yang menjadi dasar. Dalam konteks ini terdapat 4 paradigma dilemma etika yaitu: individu lawan kelompok (individual vs community), rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy), kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty), jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term) yang semuanya didasari atas 3 prinsip dan 9 langkah. Saya berencana akan mengimplementasikan landasan tersebut dalam setiap pengambilan keputusan baik sebagai pemimpin pembelajaran maupun dalam pengambilan kebijakan di sekolah dan komunitas praktisi.  Dengan landasan dalam pengambilan keputusan tersebut, saya yakin bahwa keputusan yang saya ambil akan tepat dan lebih akurat dengan selalu berpihak pada murid.

14. Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?

Materi pada modul 3.1 bagi saya sangat penting dan bermakna, karena dimanapun dan sebagai apa peran kita pasti akan menjumpai permasalahan yang dituntut untuk mengambil keputusan. Dari keputusan tersebut akan dihasilkan kebijakan -kebijakan yang akan mewarnai perjalanan sekolah untuk mewujudkan merdeka belajar dan profil pelajar Pancasila. Salah satu upaya untuk mewujudkan hal itu, maka seorang guru harus memiliki keterampilan dalam pengambilan keputusan yang mengandung nilai-nilai kebajikan. Sebagai landasan dalam pengambilan keputusan tersebut tentunya mengacu pada 9 langkah 4 paradigma dan  3 prinsip. Selain itu keputusan diambil melalui tiga uji yaitu: Uji Intuisi berhubungan dengan berpikir berbasis peraturan (Rule-Based Thinking), Uji publikasi, sebaliknya, berhubungan dengan berpikir berbasis hasil akhir (Ends-Based Thinking) yang mementingkan hasil akhir dan Uji Panutan/Idola berhubungan dengan prinsip berpikir berbasis rasa peduli (Care-Based Thinking).

Demikian koneksi antar materi yang saya paparkan, saya menyadari masih sangat perlu untuk belajar lebih banyak, untuk itu mohon masukannya agar menjadikan motivasi bagi saya untuk selalu tergerak belajar dan melakukan aktivitas yang bermanfaat untuk orang lain. 

Salam Guru Penggerak!

Tergerak! Bergerak! Menggerakan! 

Guru bergerak Indonesia Maju!

Saturday, November 19, 2016

Contoh Teks Pembawa Acara Maulid Nabi

وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى اُمُوْرِ اْلدُنْيَا وَالدِّيْنِ  *اَشْهَدُ اَنْ لَااِلَهَ اِلَّااللهْ*  وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهْ * اَمَّابَعْدُ
Assalamualaikum wr.wb.
Yang terhormat Kepala Sekolah, Bapak dan Ibu guru yang kami hormati, serta teman–teman yang kami cintai. Marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita sehingga kita masih diberi kesempatan untuk melaksanakan peringatan Maulid Nabi SAW ini dengan tiada halangan suatu apa pun.
Tak lupa sholawat salam kita sanjungkan kepada jujungan kita Nabi Agung Muhammad SAW yang selalu kita jadikan suri tauladan agar mendapatakan kebahagiaan didunia maupun diakhirat kelak. Aamiin.
Bapak/ Ibu serta teman- teman semua, sebelumnya kami akan membacakan susunan acara Peringatan Maulid Nabi pada hari ini:
1.      Pembukaan
2.      Pembacaan ayat suci Al Qur’an dan sari tilawah.
3.      Prakata panitia
4.      Pembacaan Al Barjanji
5.      Sambutan Kepala Sekolah
6.      Hiburan
7.      Mauidloh khasanah
8.      Do’a penutup
Acara yang pertama adalah pembukaan. Peringatan Maulid Nabi Muhammad akan dibuka oleh ............. Kepada beliau, kami persilakan.
Acara selanjutnya yaitu pembacaan ayat suci Al Qur’an dan sari tilawah, kepada saudara ............................dan ...................... dipersilakan.
Berikutnya yaitu prakata panitia, kepada Ibu Tiara kami persilakan
Dilanjutkan dengan pembacaan Al Berjanji, kepada rekan-rekan kami persilakan.
Acara selanjutnya yaitu sambutan dari kepala Sekolah, kepada ................dipersilakan.
Acara berikutnya yaitu Maulidloh Khasanah dilanjutkan dengan do’a penutup, kepada .............dipersilakan.
            Demikian, acara demi acara telah kita lewati dengan lancar tanpa halangan suatu apapun. Mohon maaf atas segala kekurangan.
Wabillahi taufiq wal hidayah

Waassalamualaikum Wr. Wb.

Bacaan Sholat Dhuha

Niat Sholat Dhuha



بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

اُصَلِّىْ سُنَّةَالضُّحَى رَكْعَتَيْنِ لِلهِ تَعَالى

Artinya:

Saya niat mengerjakan sholat dhuha dua rakaat karena Allah Ta’ala




Do’a Sholat Dhuha


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

اَللّهُمَّ اِنَّ الضُّحَاءَضُحَاءُكَ وَالْبَهَاءَبَهَاءُكَ وَالْجَمَالَ جَمَالُكَ وَالْقُوَّةَقُوَّتُكَ وَالْقُدْ رَةَقُدْرَتُكَ وَالْعِصْمَةَعِصْمَتُكَ.
اَللّهُمَّ اِنْكَانَ رِزْقِيْ فِيْ االسَّمَآءِفَاَ نْزِأْهُ وَاِنْكَانَ فِى الْاَرْضِ فَاَخْرِجْهُ وَاِنْ كَانَ مُعَسَّرًافَيَسِّرْهُ وَاِنْ كَانَ حَرَامًافَطَهِّرْهُ وَاِنْ كَانَ بَعِيْدًافَقَرِّبْهُ بِحَقِّ ضُحَآءِكَ وَبَهَاءِكَ وَجَمَالِكَ وَقُوَّتِكَ وَقُدْرَتِكَ آتِنِيْمَاآتَيْتَ عِبَادَكَ آلصَّالِحِيْنَ

Artinya:

Ya Allah, sesungguhnya waktu dhuha adalah waktu dhuha-Mu, keagungan adalah keagungan-Mu, keindahan adalah keindahan-Mu, kekuatan adalah kekuatan-Mu, dan kekuasaan adalah kekuasaan-Mu serta penjagaan adalah penjagaan-Mu.

Ya Allah, jika rizqiku masih diatas langit turunkanlah, dan jika ada di dalam bumi keluarkanlah, jika sukar mudahkanlah, jika haram sucikanlah, jika masih jauh dekatkanlah, berkat waktu dhuha, keagungan, keindahan, kekuatan, dan kekuasaan-Mu limpahkanlahkepada kami segala yang telah engkau limpahkan kepada hamba-hamba-Mu yang saleh.

KISAH NABI IBRAHIM


Pada zaman itu, bangsa Babilonia mengalami perkembangan yang pesat. Bangsa Babilonia adalah bangsa yang tidak mempercayai Allah, mereka justru menyembah bintang-bintang. Seiring berjalanya waktu, bintang-bintang yang mereka anggap sebagai Tuhan ternyata memiliki pesaing, yaitu Raja Raja Namrud.
“Siapakah Tuhan kalian?”
“Engkau wahai Raja Namrud yang agung, engkau wahai Raja Namrud yang agung”.
Raja Namrud memberikan hadiah bagi siapapun yang selalu mengagungkanya. Raja Namrud benar-benar dipercaya oleh semua kaum Babilonia bahwa dia adalah Tuhan yang hebat.
Pada awal pemerintahanya, Raja Namrud memerintah dengan penuh keadilan dan kebijaksanaan. Namun, lambat laun, kesombongan merasuki pikiranya. Dia sangat ingin menjadikan dirinya sebagai Tuhan. Dan diapun akhirnya menjadikan dirinya sebagai Tuhan.
Dia menghendaki, posisinya barunya sebagai Tuhan ini di sebarluaskan dan diketahui di seluruh wilayah Babilonia. Semua kaum harus menerimanya sebaai Tuhanya dan harus menyembahnya. Tak peduli apa yang diperintahkanya, semua harus dipatuhi.
Kemudian, pada sebuah pertamuan agung para peramal bintang-bintang menyampaikan,
“Wahai Tuhanku raja Raja Namrud, sebagimana kami lihat dari posisi bintang-bintang di negeri ini. Tahun ini, akan lahir seorang bayi laki-laki yang akan mengajak kaum pada agama baru, bayi ini juga akan meruntuhkan kerajaanmu. Dengarkanlah perkataan kami.”
“Kami memberikan peringatan ini agar engkau dapat mengambil tindakan yang benar.”
Raja Namrud pun gusar dengan kabar tersebut.
“Apa yang kalian katakan? Apa kalian tidak sadar dengan apa yang kalian bicarakan? Aku adalah Tuhan! Dan aku adalah raja atas segala yang ada di langit dan dibumi ini! Akulah yang memberi hidup dan mati bagi kalian!”
Setelah kejadian tersebut, Raja Namrud memrintahkan kepada prajuritnya agar seluruh bayi laki-laki yang dilahirkan harus dibunuh.
Disudut kota Babilonia, tinggalah seorang pembuat patung yang bernama Azar. Dia sangat menghormati para dewa dan juga Raja Namrud. Akan tetapi, dia sangat bingung dengan perintah Raja Namrud karena istrinya sedang hamil. Dia sangat kawatir apabila prajurit Raja Namrud akan menyerbu dirinya. Pada akhirnya, Azar memutuskan untuk membawa istrinya keluar dari wilayah Babilonia dan tinggal di sebuah goa sampai anak tersebut lahir dan perintah kejam itu dicabut.
Para prajurid Raja Namrud mendatangi setiap rumah yang diketahui ada ibu yang baru melahirkan. Semua digeledah. Demikianlah kebrutalan telah menyebar ke seluruh Babilonia selama bertahun-tahun hingga dikira sudah tidak ada bayi laki-laki yang tersisa di negeri itu. Dengan bangga para prajurit memberikan kabar kepada Raja Namrud bahwa semua bayi laki-laki telah dibunuh. Raja Namrud sangat gembira pula atas kabar yang didengarnya. Dia bertindak bagaikan monster yang baru meminum darah. Dia tidak tahu bahwa Allah memiliki rencana lain.
Ditempat lain, di sebuah goa yang gelap, lahirlah seoreng bayi laki-laki yaitu Nabi Ibrahim. Sang ayah yang takut akan kekejaman Raja Namrud telah meninggalkan ibunya di gua itu sendirian.
Tahun demi tahun berlalu dengan cepat. Nabi Ibrahim pun tumbuh menjadi anak yang pandai dan cerdas. Suatu ketika dia bertanya kepada ibunya,
          “Ibu, tolong ceritakan siapa Tuhanku?”
          “Apa??”
Sang ibu terkejut dengan pertanyaan tersebut, dia tidak tahu bagaimana harus menjawab.
          “Akulah Tuhanmu, nak”
Nabi Ibrahim pun semakin penasaran dengan jawaban tersebut.
          “Jika ibu adalah Tuhanku, maka Tuhan ibu siapa?”
          “Sudah pasti ayahmu”. Jawab sang ibu.
          “Lalu siapa Tuhanya ayah?”
“Pertanyaan macam apa itu anakku?”. Sang ibu mulai bingung harus menjawab apa lagi. “Namrudlah Tuhan ayahmu”
“Lalu Tuhanya Raja Namrud siapa, ibu?”
          Sang ibu sungguh kebingungan, dia tidak mampu lagi menjawabnya.
          Waktu berlalu, untuk pertama kalinya Nabi Ibrahim keluar dari goa. Dia merasa takjub ketika melihat matahari, seakan dia telah menemukan Tuhan yang selama ini dia cari. Nabi Ibrahim memperhatikan matahari sepanjang hari. Ketika matahari tenggelam, hilanglah ketakjuban dan kepercayaan Nabi Ibrahim bahwa matahari adalah Tuhanya.
          Nabi Ibrahim terpukau kembali ketika menyaksikan bulan yang berkilau di malam hari dan mengira itulah Tuhanya. Namun ketika dia bangun di pagi hari, dia menjadi kecewa karena bulan telah menghilang.
                   “Bearti bukan itu Tuhanku. Tuhan tidak mungkin pergi dan menghilang.”
Nabi Ibrahim selalu termenung mencari siapakah Tuhanya. Hingga akhirnya dia mengetahui bahwa Allah lah Tuhan semesta Alam ini.
Beberapa tahun kemudian, Nabi Ibrahim kembali ke Babilonia. Pada saat itu Raja Namrud berada pada puncak kejahiliahan. Mereka menyembah patung-patung yang tidak bisa melakukan apapun. Yang lebih mengecewakan lagi yaitu ketika Nabi Ibrahim mengetahui bahwa ayahnya adalah salah seorang dari pembuat patung-patung tersebut.
Nabi Ibrahim kemudian mulai melakukan dakwahnya menyampaikan agama Allah. Dia selalu berdoa kepada Allah agar selalu diberi kekuatan dalam menghadapi orang-orang Babilonia yang selalu menentangnya.
“Mengapa patung-patung itu disembah? Padahal patung tersebut tak dapat mendengar dan melihat, apalagi menghidupkan dan mematikan. Apakah itu yang dinamakan TUHAN?? Sadarlah wahai kaum Babilonia”
          Semua kaum Babilonia tidak bisa menerima semua ajaran yang disampaikan oleh Nabi Ibrahim, bahkan mereka menganggap Nabi Ibrahim adalah orang gila. Nabi Ibrahim sangat sabar dengan perlakuan mereka. Karena dia memiliki semua kebaikan dan kebajikan sebagai seorang Rasul.
          Puncak keberanian Nabi Ibrahim yaitu ketika kaum Babilonia beserta Raja Namrud keluar untuk melaksanakan acara keagamaanya. Ketika Nabi Ibrahim berjalan menyusuri jalan di Babilonia setelah menolak ajakan untuk menghadiri acara tersebut, sampailah Nabi Ibrahim di sebuah rumah, yaitu rumah berhala yang terbesar dikota itu. Dengan membawa sebuah kapak, Nabi Ibrahim mulai menghancurkan berhala-berhala tersebut.
Laailaahaillallaah !!”
“TIDAK ADA YANG PATUT DISEMBAH SELAIN ALLAH!!”
“Buktikanlah bahwa kalian adalah Tuhan-Tuhan yang memiliki kekuatan!!”
“TAHANLAH AKU!!”
“MANA KEKUATAN KALIAN??”
“Mereka adalah orang-orang bodoh yang telah menyembah kalian Tuhan palsu yang tak bisa berbuat apa-apa”
          Tetapi Nabi Ibrahim tidak menghancurkan patung berhala yang terbesar. Beliau mengalungkan kapaknya di leher berhala tersebut sebagai contoh dan pembelajaran bagi kaum Babilonia.
Pada saat itu terjadi kegemparan di Babilonia, karena hancurnya semua berhala-berhala. Kaum Babilonia tidak menyadari bahwa patung-patung yang mereka sembah tidak dapat melindungi diri mereka sendiri.
Kaum Babilonia dan Raja Namrud sangat marah kepada Nabi Ibrahim. Ditanyalah Nabi Ibrahim oleh Raja Namrud,
“Wahai Ibrahim, engkaukah yang menghancurkan patung-patung ini?”
Nabi Ibrahim menjawab dengan tenang,
“Bukan, patung besar itulah yang telah menghancurkanya. Lihatlah kapak dilehernya”
          Medengar jawaban tersebut Raja Namrud semakin marah.
                   “Mana bisa patung semacam itu bisa berbuat?”
                   “Kalau tidak bisa berbuat apapun, kenapa engkau sembah?”
          Dengan tidak banyak berkata lagi, Raja Namrud memerintah kaumnya untuk membakar Nabi Ibrahim hidup-hidup. Namun, berkat kekuasaan Allah, Nabi Ibrahim tidak merasakan panas dan selamat dari api tersebut.

Allahu Akbar!!

Ingatlah kawan, tidak ada yang patut di sembah kecuali Allah.

Silakan share, jangan lupa cantumkan link blognya ☺

Friday, April 1, 2016

Makalah Sistem Pendidikan Muhammadiyah

BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG MASALAH
Kelahiran organisasi-organisasi Islam di Indonesia lebih banyak dikarenakan adanya dorongan oleh mulai tumbuhnya sikap patriotisme dan rasa nasionalisme serta sebagai respon terhadap kemunduran yang terjadi di kalangan masyarakat Indonesia padfa akhir abad ke-19 akibat eksploitasi politik pemerintah kolonial Belanda. Langkah pertama diwujudkan dalam bentuk kesadaran berorganisasi.

B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Bagaimanakah kelahiran Muhammadiyah dan tokoh pendirinya?
2.      Apa tujuan dan usaha yang dilakukan Muhammadiyah?
3.      Apa usaha yang dilakukan Muhammadiyah dalam bidang Pendidikan?

C.     TUJUAN PENULISAN
1.      Mahasiswa mengetahui kelahiran Muhammadiyah dan tokoh pendirinya
2.      Mahasiswa mengetahui tujuan dan usaha yang dilakukan Muhammadiyah
3.      Mahasiswa mengetahui usaha yang dilakukan Muhammadiyah dalam bidang Pendidikan
4.      Memenuhi tugas mata kuliah Sejarah Pendidikan Islam.



BAB II
PEMBAHASAN

A.    KELAHIRAN MUHAMMADIYAH DAN TOKOH PENDIRINYA.
Muhammadiyah adalah suatu organisasi yang berdasarkan agama islam, sosial, dan kebangsaan. Sebuah organisasi sosial yang terpenting di Indonesia sebelum Perang Dunia II dan mungkin juga sampai sekarang ini. Organisasi atau perkumpulan ini didirikan di Yogyakarta pada tanggal 8 Dzulhijah 1330 H oleh K. H. Ahmad Dahlan.
1.      Riwayat Hidup K. H. Ahmad Dahlan.
Ahmad Dahlan sewaktu mudanya bernama Muhammad Darwis, lahir pada tahun 1285 H atau 1868 M di kampung Kauman Yogyakarta. Ayahnya bernama K. H. Abu Bakar bin K. H. Sulaiman.  Ahmad Dahlan meninggal pada tanggal 23 Februari 1923 atau 7 Rajab 1340 H di Kauman Yogyakarta.
Semasa kecilnya Ahmad Dahlan tidak bersekolah karena sikap orang islam pada waktu itu yang melarang anak-anaknya memasuki sekolah Gubernemen. Sebagai gantinya Ahmad Dahlan diasuh sert dididik mengaji oleh ayahnya sendiri. Dan kemudian ia meneruskan pelajaran mengaji tafsir dan hadist serta bahasa Arab dan Fiqh kepada beberapa ulama lain di Yogyakarta dan sekitarnya. Dengan bantuan Nyai Haji Saleh maka pada tahun 1980 ia pergi ke Mekkah dan belajar di sana selama satu tahun.

B.     TUJUAN DAN USAHA MUHAMMADIYAH.
Muhammadiyah berusaha mengembalikan ajaran Islam kepada sumber aslinya yaitu Al Quran dan Assunah, seperti yang diamanatkan oleh Rasulullah SAW. Itulah sebabnya tujuan perkumpulan ini meluaskan dan mempertinggi pendidikan agama Islam secara modern, serta memperteguh keyakinan tentang agama islam, sehingga terwujudlah masyarakat islam yang sebenar-benarnya. Tujuan dari organisasi ini dari waktu ke waktu mengalami perubahan, tetapi esensi maknanya tetap sama.
Untuk mewujudkan maksud dan tujuan tersebut, maka diadakan usaha-usaha,
1.      Mengadakan dakwah
2.      Memajukan Pendidikan dan Pengajaran
3.      Menghidupsuburkan masyarakat tolong menolong
4.      Mendirikan dan memelihara tempat ibadah dan wakaf
5.      Mendidik dan mengasuh anak-anak dan pemuda agar kelak menjadi orang islam yang berarti
6.      Berusaha kearah perbaikan penghidupan dan kehidupan yang sesuai dengan ajaran islam
7.      Berusaha dengan segala kebijaksanaan agar peraturan islam berlaku dalam masyarakat.
Sementara itu usaha-usaha lain yang dilakukan adalah memperluas pengajian-pengajian, menyebarkan bacaan-bacaan agama, mendirikan masjid-masjid, madrasah, sekolah, dan pesantren.
Muhammadiyah tidak hanya bergerak di bidang pengajaran, tetapi juga dalam bidang-bidang lain, terutama menyangkut sosial umat islam. Sehubungan dengan itulah Muhammadiyah memiliki ciri khas sebagai berikut,
1.      Muhammadiyah sebagai gerakan islam
2.      Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah
3.      Muhammadiyah sebagai gerakan tajdidi
Demikian tujuan dan usaha Muhammadiyah, yang tidak memilih politik sebagai jalur kegiatanya.

C.     USAHA DI BIDANG PENDIDIKAN
1.      Dasar dan Fungsi Lembaga Pendidikan
Dasar dari pendidikan Muhammadiyahhh yaitu,
a)      Tajdid
b)      Kemasyarakatan
c)      Aktivitas
d)     Kreativitas
e)      Optimisme
Sedangkan fungsi dari lembaga pendidikan adalah sebagai berikut,
a)      Alat dakwah ke dalam dan keluar anggota-anggota Muhammadiyah
b)      Tempat pengkaderan, yang dilaksanakan secara selektif dan sistematis, sesuai dengan kebutuhan Muhammadiyah maupun masyarakat.
c)      Gerak amal anggota.
2.      Penyelenggaran Pendidikan
Salah satu cara untuk mencapai tujuan dari Muhammadiyah yaitu dengan cara mendirikan sekolah di seluruh tanah air. sedangkan tujuan dari pendidikan itu sendiri adalah agar terwujudnya manusia muslim, berakhlak, cakap, percaya diri, serta berguna bagi masyarakat dan negara.
Muhammadiyah mendirikan berbagai jenis dan jenjang sekolah, serta tidak memisah-misahkan antara pelajaran agama dengan pelajaran umum. Sehingga diharapkan bangsa Indonesia dapat dididik menjadi bangsa yang mempunyai kepribadian utuh, yaitu pribadi yang berilmu pengetahuan umum luas  dan agama yang mendalam.
Rencana Pelajaran di sekolah-sekolah Muhammadiyah tidak bertentangan dengan pengajaran pemerintah Hindia-Belanda. Maka cukup banyak sekolah Muhammadiyah yang mendapatkan subsidi dari pemerintah kolonial. Padahal Belanda sangat ketat dalam pengawasan dan pemberian ijin pada sekolah-sekolah yang dilaksanakan penduduk pribumi, terutama bagi sekolah-sekolah yang bercorak agama islam. disinilah keberhasilan Muhammadiyah dalam menjalankan strategi pendidikanya.
Pada zaman kolonial Belanda, sekolah-sekolah yang dilaksanakan Muhammadiyah adalah,
a)      Sekolah Umum
Meliputi, TK (Bustanul Atfal), Verfolg School 2 tahun, Schakel School, dll. Pada sekolah umum ini, Pendidikan Agama Islam dilaksanakan sebanyak 4 jam pelajaran per minggu.
b)      Sekolah Agama.
Meliputi, MI 3 tahun, MTs 3 tahun, Mualimin/Mualimat 5 tahun, SPG Islam 5 tahun. Pada madrasah-madrasah ini juga diberikan pelajaran pengetahuan umum.
Pendidikan yang diselenggaraka Muhammadiyah mempunyai andil yang cukup besar bagi bangsa dan negara, dan juga menghasilkan beberapa keuntungan, meliputi
a)      Menambah kesadaran nasional bangsa Indonesia melalui ajaran agama Islam
b)      Melalui sekola-sekolah Muhammadiyah ide-ide reformasi Islam secara luas disebarkan.
c)      Mempromosikan kegunaan ilmu pengetahuan modern.
Selanjutnya pada zaman kemerdekaan, sekolah Muhammadiyah berkembang semakin pesat. pada dasarnya ada empat jenis lembaga pendidikan yang dikembangkan, yaitu
a)      Sekolah umum yang bernaung dibawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
b)      Madrasah yang bernaung dibawah Departemen Agama
c)      Sekolah atau Madrasah khusus Muhammadiyah
d)     Perguruan Tinggi Muhammadiyah
3.      Strategi Pengembangan Pendidikan.
Kelahiran Muhammadiyah pada tahun 1912 M tidak bisa di pisahkan dengan kondisi dan situasi sosial pada saat itu, diantaranya situasi keberagaman umat, masalah kemiskinan, masalah pendidikan dan beberapa masalah lainya. Situasi pendidikan yang memprihatinkan dan bertentanan dengan sistem pendidikan penjajah yang dikembangkan di Indonesia melatar belakangi KH. Ahmad Dahlan untuk memperkenalkan metode baru sistem pendidikan islam.
Pendidikan Muhammadiyah yang bersifat tenah-tengah, sangat penting peranya dalam meraih keterpaduan antara pemikiran barat dan pemikiran islam. Dan lulusanya dapat menjebatani kesenjangan antara kaum santri tradisional dan intelektual lulusan peendidikan barat.
4.      Pesantren Muhammadiyah.
KH. Ahmad Dahlan mencoba mendirikan pesantren yang dinamakan dengan “Pondok Muhammadiyah” pada tahun 1912.
Pada tahun 1968, pimpinan Muhammadiyah jua mencoba membuat pola pendidikan baru yan dinamakan dengan “Pendidikan Ulama Tarjih”. Tetapi usaha ini akhirnya agal dan dihentikan.



BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN.
Muhammadiyah mempunyai peran penting di Indonesia, khususnya pada bidang pendidikan. Dewasa ini organisasi Muhammadiyah tersebar di seluruh pelosok negeri, dan dioranisasikan dari tingkat pusat sampai ranting. Kesatuan kerja ini berbentuk majelis-majelis dan organisasi-organisasi otonom.

B.     DAFTAR PUSTAKA

Drs. Hasbullah,, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2001.